ISYA ALLAH (MAHER ZAIN)

Minggu, 03 Agustus 2008

Pengajaran Seimbang Teori Evolusi Diperjuangkan di AS

Pengajaran Seimbang Teori Evolusi Diperjuangkan di AS Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Monday, 26 May 2008
Evolusionis Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat mulai cemas. “Dogma suci” evolusi semakin dibeberkan dan terus digoyang

Hidayatullah.com--Evolusionis Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain patut cemas. Pasalnya, kejahatan diktatorisme mereka yang selama ini mengangkangi dunia ilmu pengetahuan dan menindas mereka yang berani mempertanyakan “dogma suci” evolusi semakin dibeberkan dan digoyang.

Film dokumenter fakta nyata “Expelled: No Intelligence Allowed” sudah sejak 18 April 2008 lalu diputar di sekitar 1000 gedung bioskop di seantero AS dan mendapat sambutan luar biasa. Film yang bersitus di www.expelledthemovie.com tersebut mengungkap fakta masa kini tentang derita korban-korban kebiadaban penindasan evolusionis itu.

Dampaknya, kini masyarakat luas AS menjadi tersadarkan, bahwa ada sesuatu yang salah di negeri mereka: kebebasan akademis yang dijunjung tinggi di AS diinjak-injak oleh para ilmuwan evolusionis. Di sisi lain, media massa, lembaga dan para ilmuwan Darwinis termasuk yang paling lantang mencemooh dan memburuk-burukkan film tersebut. Namun cercaan ini menjadi bukti tersendiri bahwa aib evolusionis yang diungkap film tersebut adalah benar.

Lantang bersuara

Evolusionis dogmatis ini memecat dan mencemooh rekan sesama ilmuwan yang berani mengritik dan mempertanyakan keabsahan teori evolusi, atau berpandangan selain teori evolusi. Sebagian korban-korban penindasan ini bungkam, sebagian lagi menyembunyikan pandangannya yang menolak teori evolusi agar tidak mengalami nasib tragis sebagaimana dialami rekan-rekannya yang lain yang dikeluarkan dari jabatan akademisnya. Namun sebagian lagi, seperti Dr. Guillermo Gonzalez dan Dr. Richard Sternberg, lantang bersuara dan pantang menyerah menghadapi kedzaliman evolusionis itu.

Dr. Sternberg adalah pakar biologi evolusi yang menekuni kaitan antara gen dan homologi morfologi, serta seluk beluk informasi genomik. Di situs resminya, www.rsternberg.net, ia menuturkan panjang lebar kekejaman akademis yang dialaminya di Smithsonian Institution. Penindasan ini dideritanya setelah ia meloloskan penerbitan tulisan ilmiah yang mendukung perancangan cerdas di jurnal biologi yang dieditnya.

Kisah pilu serupa menimpa Dr. Guillermo Gonzalez, profesor astronomi di Iowa State University (ISU), AS. Di situs www.freegonzalez.com ia memaparkan pemecatan yang ia alamai di tempat penelitiannya.

Dengan 68 tulisan ilmiah di akhir masa kontrak akademisnya, Dr. Gonzalez sebenarnya telah melampaui batas jenjang “luar biasa” di departemennya dalam hal penelitian dengan prestasi 350% lebih tinggi dari yang ditargetkan. Berdasarkan prestasi gemilang ini, salah seorang ilmuwan terkemuka yang menilai pengajuan perpanjangan kontrak Dr. Gonzalez mendukung perpanjangan kontrak yang diajukannya.

Pada tahun 2004, Dr. Guillermo Gonzalez menulis buku berjudul The Privileged Planet (Planet Yang Diistimewakan), yang kemudian diangkat menjadi film, www.privilegedplanet.com. Buku dan film tersebut mengemukakan bukti dari ilmu astronomi dan fisika bahwa alam semesta dirancang sengaja bagi kehidupan dan penemuan ilmiah.

Dr. Gonzalez mendapatkan penghargaan penting berupa dana dari the Templeton Foundation untuk menulis bukunya The Privileged Planet sebagai bagian dari kewajiban resminya di Iowa State University (ISU). Namun rekan-rekannya di ISU menolak memperpanjang kerjanya, karena mereka tidak menghendaki pendukung perancangan cerdas seperti Dr. Gonzalez ada di departemen mereka. Akhirnya, Presiden ISU Gregory Geoffrey dan kemudian lembaga Board of Regents of the State of Iowa di bulan Februari 2008 menolak tuntutan perpanjangan kontrak kerjanya.

Ideologi evolusi

Perancangan cerdas memiliki pandangan bahwa kesempurnaan alam kehidupan ini merupakan bukti keberadaan perancangan sengaja yang memunculkan makhluk hidup, bertolak belakang dengan teori evolusi yang menolak gagasan itu. Teori evolusi menihilkan adanya perancangan sengaja di alam sebagaimana perkataan Charles Darwin sendiri:

"There seems to be no more design in the variability of organic beings, and in the action of natural selection, than in the course which the winds blow."

"Tampaknya tidak ada perancangan pada keberagaman makhluk hidup, dan pada tindakan seleksi alam, selain dari proses yang digerakkan oleh tiupan angin." (Francis Darwin (editor), The Life and Letters of Charles Darwin (New York: D. Appleton, 1887), Volume I, hal. 278-285; Volume II, hal. 105-106.)
Evolusionis terkemuka, Stephen Jay Gould menegaskan hal serupa mengenai pemikiran Darwin ini dalam perkataannya:

“Darwin developed an evolutionary theory based on chance variation and natural selection imposed by an external environment: a rigidly materialistic (and basically atheistic) version of evolution.”

“Darwin membangun sebuah teori evolusi berdasarkan variasi kebetulan dan seleksi alam yang dikenakan oleh lingkungan luar: sebuah versi materialis kaku (dan pada dasarnya ateis) dari evolusi,” (- Stephen Jay Gould, Ever Since Darwin: Reflections in Natural History 33 (W.W. Norton 1977).)

Singkatnya, jika teori evolusi adalah teori ilmiah, maka teori evolusi dapat leluasa dipertanyakan dan dikritik ilmiah, sebagaimana teori-teori ilmiah lainnya. Namun kenyataannya tidak demikian. Teori evolusi adalah sebentuk ideologi materialis dan ateis, yang perlu dipertahankan dengan cara ideologis pula seperti penindasan kebebasan ilmiah, pemecatan, pembungkaman, pencemoohan, pelarangan penjelasan tandingan teori evolusi dan segala tindakan non intelektual dan non ilmiah lainnya.

Tidak pernah terbukti

Tidak sekedar itu, teori evolusi Darwin, salah satu versi teori evolusi yang dominan saat ini, memang tidak pernah dibuktikan secara langsung. Dalam perkataan pakar biologi AS, Jonathan Wells, hingga sekarang tidak pernah ada terbitan ilmiah yang membenarkan dengan bukti langsung akan adanya proses pembentukan spesies ala Darwin.

Dengan kata lain, teori evolusi Darwin didasarkan pada ketiadaan bukti langsung. Darwin membeberkan bahasan panjang dalam bukunya The Origin of Species by Means of Natural Selection“. Tapi, Darwin tidak memiliki bukti langsung apa pun yang mendasari hipotesis yang tercermin pada judul bukunya itu. Tidak pula pengikutnya di masa kini dapat menunjukkan bukti langsung itu.

Memperjuangkan kebebasan

“Kami, warga Negara Amerika yang bertanda tangan di bawah ini, mendorong diterapkannya kebijakan oleh lembaga-lembaga akademis milik negara kami yang menjamin kebebasan akademis guru dan murid untuk membahas kekuatan dan kelemahan evolusi Darwin. Guru sepatutnya dilindungi dari tindakan dipecat, diganggu, diancam, atau didiskriminasi akibat mengajarkan secara berimbang kekuatan dan kelemahan ilmiah teori Darwin. Siswa sepatutnya dilindungi dari tindakan diganggu, diancam, atau didiskriminasi akibat mengemukakan pandangan mereka mengenai kekuatan dan kelemahan ilmiah teori Darwin dengan cara yang semestinya.”

Demikian bunyi petisi kebebasan akademis, www.academicfreedompetition.com, yang sekarang sedang diperjuangan di AS. Petisi ini diperjuangkan seiring dengan penyadaran warga negeri Paman Sam akan masalah serius tersebut lewat film Expelled, www.expelledthemovie.com.

Hingga saat ini ada 5 negara bagian AS yang mempertimbangkan pemberlakuan undang-undang mengenai kebebasan akademis ini, yang dirancang untuk melindungi para staf pengajar di lembaga pendidikan untuk mengajar teori evolusi secara berimbang, baik sisi kekuatan maupun kelemahannya. Kelima negara bagian itu adalah: Missouri, Michigan, Louisiana, Florida dan Alabama. Diharapkan dengan undang-undang ini para staf pengajar tersebut akan terlindungi dari keganasan evolusionis yang menindas kebebasan ilmiah.

Untuk negara bagian Florida, pihak terkait gagal meloloskan rancangan peraturan ini. Peraturan apa pun yang berurusan dengan pengajaran teori evolusi akan berhadapan dengan “peperangan dahsyat” akibat kuatnya kelompok-kelompok Darwinis AS dalam menekan penentu kebijakan masalah pengesahan undang-undang.

Mengapa para Darwinis begitu takut dengan undang-undang yang menjamin kebebasan para pengajar untuk mengajarkan secara seimbang pendapat pro dan kontra evolusi? Jelas, teori evolusi memang tidak cocok untuk diajarkan dalam lingkungan kebebasan akademis. Karena kebebasan akademis akan mengganggu proses indoktrinasi searah ideologi evolusi, yang menolak pengungkapan kelemahan evolusi. [wwn/www.hidayatullah.com]
Share this article

0 komentar: